tepat hari ini, di salah satu tempat, entah di belahan bumi bagian mana, satu kebahagiaan tersuguhkan. senyum bahagia memancar dari sana. terekam seperti sebuah siluet indah. sedang di sudut bumi yang lain, ada seseorang yg ikut (mencoba) menikmati setiap inchi prosesi kebahagiaan itu. menikmatinya dalam senyum dan bentuk yang lain, dari sudut yang lain.
“semoga lancar acaramu hari ini, mas!”
:’)
-mumu, 10 April 2012
Aku suka memandangi pelangi. .
Melihat warnanya yg berundak rapi. .
Menghitung berapa jumlah warna itu bergradasi. .
Seolah dia adalah tangga yg berwarna-warni. .
Tak henti, sampai kuat sinar matahari menghapusi. .
Sayang sekali, tak setiap hujan ber ujung pelangi. .
Dia menunggu kode yg pas, dimana cahaya membias indah di sisa-sisa hujan.
Ah, seandainya bisa, akan ku remote hujan agar rintiknya tetap pada formula tertentu dan cahaya matahari akan ku biarkan lewat, sehingga semua orang bisa menikmatinya, pelangi. .
Bukankah indah, jika hati berwarna seperti itu?
Tapi itu dulu, saat aku masih kecil. .
sekarang,
aku tahu sesuatu yg baru,
ternyata pelangi tidak hanya muncul setiap hujan. .
Dia tidak perlu kode pembiasan,
tidak perlu menunggu cahaya matahari,
tapi indahnya sungguh bisa mewarnai hati.
Pelangi terbalik di bibirmu, ,
akan ku ukir itu setiap waktu, aku janji!
Bolehkah?
Karna bagiku, senyummu adalah pelangiku. .
—————————-
pesanan mas @acog buat gebetannya :D
kesempatan itu. . ? Sabar ya, sist ! :*
————————————————
[DIA]
kesempatan pertama aku buang begitu saja. hanya dengan 1 alasan, pikiranmu terlalu rumit, sedang aku lelah mengikutinya. Ya, itu dulu. . saat aku menyuruhmu pulang untuk tidak terus mencariku di kotaku. .
kesempatan ke-dua, saat kau berniat menelfonku, sesaat sebelum pesawatmu terbang ke benua berbeda yg jauh di seberang sana. ketidak-sengajaan membuatnya hilang. Aku lebam!
kesempatan ke-tiga, kamu mengatakan sesuatu yg ku cerna sebagai sebuah janji kehidupan. Lalu aku merangkai harapan. Harapan yg membuatku sempurna menunggumu.
“kalo aku pulang, apa mumu masih mau aku temuin ya?”
Harapan itu ada, kesempatan itu ada!
Aku yakin itu!
kesempatan ke-empat. Kau memberiku selamat atas hari kelahiranku. Tepat, ulang tahun ke-dua’ku bersamamu. Kau sempurna memberi kesempatan, “harapanku akan menjadi nyata, suatu saat!”
kesempatan ke-5, Allah mengembalikanmu, doaku terkabul. Kali ini aku tau makna kesempatan. Allah benar-benar memberimu itu. Kamu sembuh! Dan itu semakin membuatku percaya tentang harapan dan doa, bahkan tentang kamu!
“selalu ada kamu dalam setiap aamiin yang panjang.”
kesempatan ke-enam (yg terakhir).
Kau akan menikah? Ini lelucon! Seketika harapanku musnah. Ternyata kata-katamu dulu bukan sebuah janji kehidupan. Hanya semacam lagu pengantar tidur? ? Ternyata!
Lebamku perlahan hilang, berganti menjadi mati. Ya, aku mati! Semua musnah begitu saja!
dalam kematianku, aku punya satu keinginan. Ini yg terakhir. “Aku mau bicara denganmu, entah secara langsung ataupun lewat telpon”. Jangan berpura-pura memberi kesempatan tapi berujung musnah lagi dengan beralasan “aku ga mau mumu nangis”! Kamu tahu, itu semua cuma omong kosong! Semacam basa-basi tidak mau membuat aku sakit, padahal kamu sudah tahu kalau aku terlanjur mati!
Tolong beri aku kesempatan untuk berdamai dengan masa lalu! Tak ada satupun yg bisa melupakan masa lalu, yg mereka bisa lakukan hanya berdamai dengan masa lalu, termasuk aku. . Tolong akhiri semua ini dengan cara yg indah karena aku benar-benar nyata. . Aku benar-benar ada!
————————————————-
kalian bisa membuat kesempatan itu ada! Berdamailah! ! Berdamailah dengan masa lalu! !
————————————————-
jogja, 5 Maret 2012
satu kalimat,
aku tak bisa mencintaimu seperti yg aku mau. .
dan aku, disini, belajar berbahagia, untukmu. .